Ini merupakan catatan yang terlambat ditulis. Jadi ceritanya flashback jauh ke 2 tahun lalu, di awal 2024. Masa ketika kami bersiap untuk melepas Naufal sekolah di Jepang sendirian.
Awalnya, kami tidak punya rencana untuk menyekolahkan anak-anak ke luar negeri sedini ini. Apalagi kami merasa usia belasan belum cukup matang secara spiritual untuk tinggal sendiri di negeri yang jauh dari nilai agama. Namun, banyaknya kejadian di sekitar kami yang berseberangan dengan nilai hidup yang kami anut membuat kami merasa ternyata tinggal di Indonesia pun bukan berarti tanpa tantangan. Malah nyatanya, nggak sedikit mahasiswa Indonesia yang menjadi penganut liberal, bahkan terbuka terhadap LGBTQ. Na'udzubillah.
Hingga ketika Naufal "berambisi" bisa lolos menembus sekolah bahasa di Jepang, untuk kemudian melanjutkan kuliahnya juga di sana, saya bertawakkal saja pada Allah, insyaallah menitipkan urusan hidupnya pada Sang Pemilik Jiwa.
