Showing posts with label parenting. Show all posts

Ketika Anak-anak Tidak Ingin Belajar


Apa yang dilakukan oleh orangtua saat mendapati anaknya tidak mau belajar? Kadang memarahi, menegur atau bahkan ada yang menakut-takuti atau mengancam. Padahal sama seperti orang dewasa, anak-anak pun mengalami masa-masa burned out atau kelelahan dalam belajar. 

Namanya anak-anak (apalagi usia 7-12), selain attention spannya masih pendek, kesiapan belajar mereka juga bisa berubah-ubah. Misalnya, saat dalam jadwal mereka adalah matematika, belum tentu mereka sedang siap belajar matematika.

Skill yang Mulai Hilang pada Anak Digital


Seiring dengan berkembangnya teknologi digital, banyak hal yang dulu dilakukan manual sekarang beralih ke digital. Semuanya terasa lebih mudah dan cepat. Dalam waktu singkat, kita bisa menghasilkan banyak karya dan produk.

Salah satu contoh pekerjaan yang dulu ada, tapi sekarang sudah ditinggalkan orang adalah berkirim surat

Jaman sekarang rasanya hampir tidak ada orang berkirim surat secara manual dan mengirimkannya lewat pos. Saya pernah mempraktikkan untuk anak-anak, meminta mereka punya sahabat pena. 

Mengontrol Pengaruh Gadget pada Anak Sejak Dini


Seminar-seminar tentang pengaruh gadget pada usia dini tampak menjamur dimana-mana. Kenapa? Karena kini para orangtua begitu resah dengan efek gawai elektronik atau gadget yang terjadi pada anak-anaknya, terutama pada anak usia dini.

Kenapa begitu khawatir? Apakah pengaruh gadget begitu merusak sehingga harus dihindarkan dari anak-anak kita?

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sebuah seminar parenting bertema serupa dengan nara sumber seorang psikolog perkembangan anak, Elizabeth Santosa. Catatan tentang seminar ini pernah saya tulisan dalam postingan Tentang Interaksi Anak dengan Gadget.

Interaksi Anak Zilenial dengan Gadget


Pernah mendengar Amanda Todd? Dia adalah seorang remaja usia 15 tahun yang tewas mengenaskan akibat bunuh diri setelah percobaannya yang kesekian kalinya. Hidup yang dijalaninya selama kurang lebih 3 tahun sebelum dia bunuh diri sangat memprihatinkan. Amanda, seorang remaja belia yang seharusnya tengah sibuk menemukan passion dan menikmati gerbang kedewasaan, didera depresi berat akibat cyber bullying yang membawa kepada bullying di dunia nyata.

Amanda mulai aktif di sosial media sejak kurang dari 12 tahun. Berkenalan dengan orang asing membuatnya bahagia, bereksplorasi di dunia maya menjadi kesibukannya bersama teman-temannya. Dia mendapatkan pengakuan, pujian dan kebanggaan lewat ruang maya yang ada di layar gadgetnya.

Mengatasi Kecanduan Game Tanpa Banyak Bicara


Ngobrolin tentang mengatasi kecanduan game sepertinya lebih cocok dibahas oleh para pakar parenting, ya. Sudah banyak juga sharing seputar hal ini. Namun saya ingin share sedikit berdasarkan pengalaman di keluarga.

Benar, anak-anak yang lahir di dekade milenia ini adalah digital natives, atau penduduk asli yang menempati dunia digital. Anak-anak kita lahir ketika dunia digital sedang memasuki masa keemasannya. Pengguna gawai elektronik hampir berbanding lurus dengan jumlah sensus penduduk. Hampir loh yaa (takut dikata lebay).

Anak Harus Bahagia

 


Pernah saya iseng-iseng bertanya pada seorang guru di sekolah anak saya, di Emerald Australia. Kenapa kurikulum di Australia lebih ringan dibanding kurikulum di Indonesia? Kebetulan guru ini pernah tinggal di Indonesia selama beberapa waktu dan tahu bagaimana sedikit tentang kondisi pendidikan Indonesia.

Guru ini menjawab, bahwa pendidikan anak-anak usia primary (maksudnya SD) memang diusahakan tidak membebani mereka dan tidak merampas masa bermain mereka. Karena kelak saat mereka dewasa, mereka akan dihadapkan pada pekerjaan yang berat dan serius. Dan saat itulah mereka tidak lagi bisa bermain-main.

Menemukan Bakat Terpendam Anak


Menemukan bakat terpedam anak kadang kala seperti menemukan sebuah harta karun berharga, lho. Ini saya alami pada diri saya sendiri.

Sejak kecil, sebagaimana orang tua era 80-90an pada umumnya, menilai keberhasilan anak-anaknya dari nilai akademisnya. Begitu juga orang tua saya yang selalu menekankan prestasi sekolah sebagai tolak ukur keberhasilan.

Seberapa Penting Pendidikan Karakter pada Anak


Hati-hati dengan pikiranmu, karena pikiranmu menjadi perkataanmu.

Hati-hati dengan perkataanmu,karena perkataanmu menjadi perbuatanmu.

Hati-hati dengan perbuatanmu,karena perbuatanmu menjadi kebiasaanmu.

Hati-hati dengan kebiasaanmu,karena kebiasaanmu menjadi karaktermu.

Hati-hati dengan karaktermu,karena karaktermu menentukan nasibmu.

Menciptakan Suasana Belajar yang Nyaman untuk Anak

 


Banyak orang tua yang mengeluh ketika anak-anak mereka malas mengerjakan PR, mengulang pelajaran atau belajar untuk persiapan ujian. Tidak jarang, keinginan orang tua agar anak rajin belajar di rumah ini berbenturan dengan keinginan anak untuk bermain. Sehingga bukan tidak mungkin orang tua menjadi stress, anak menjadi stress, atau keduanya sama-sama stress.

Tidak perlu khawatir, karena dunia anak usia di bawah 12 tahun memang didominasi oleh dunia bermain. Jadi untuk membuat anak senang belajar, orang tua harus masuk ke dunia mereka untuk menciptakan suasana menyenangkan dan anak merasa seperti bermain. 

Ide Kegiatan Outdoor Bersama Anak


Buat anak-anak homeschooling yang mempunyai prinsip “Belajar Dimana Saja, Kapan Saja, Dengan Siapa Saja” tentu membutuhkan kegiatan yang bervariasi, seru dan menyenangkan. Supaya nggak bosan.

Ruang kelas kita adalah alam, dindingnya tanpa batas. Kurikulumnya bisa berganti kapan saja, sesuka kita, yang penting membawa konsep belajar. Dan, belajar pun tidak selalu yang berhubungan dengan mata pelajaran sekolah, tapi tentang kehidupan.

5 Pilar yang Diperlukan Anak untuk Sukses dan Bahagia

Apakah definisi sukses? Bahagia? Kita sering menerjemahkan sukses dan bahagia dengan harta benda, padahal adanya harta benda bukan satu-satunya hal yang membuat seseorang bahagia. Sukses, mungkin, dalam kacamata duniawi.

Mempersiapkan anak untuk sukses dan bahagia, ternyata tidak hanya menjejalinya dengan ilmu (baca: mata pelajaran) yang akan digunakannya untuk menjadi sukses. Namun memberinya bekal nilai-nilai dan penanaman karakter.