Ini merupakan catatan yang terlambat ditulis. Jadi ceritanya flashback jauh ke 2 tahun lalu, di awal 2024. Masa ketika kami bersiap untuk melepas Naufal sekolah di Jepang sendirian.
Awalnya, kami tidak punya rencana untuk menyekolahkan anak-anak ke luar negeri sedini ini. Apalagi kami merasa usia belasan belum cukup matang secara spiritual untuk tinggal sendiri di negeri yang jauh dari nilai agama. Namun, banyaknya kejadian di sekitar kami yang berseberangan dengan nilai hidup yang kami anut membuat kami merasa ternyata tinggal di Indonesia pun bukan berarti tanpa tantangan. Malah nyatanya, nggak sedikit mahasiswa Indonesia yang menjadi penganut liberal, bahkan terbuka terhadap LGBTQ. Na'udzubillah.
Hingga ketika Naufal "berambisi" bisa lolos menembus sekolah bahasa di Jepang, untuk kemudian melanjutkan kuliahnya juga di sana, saya bertawakkal saja pada Allah, insyaallah menitipkan urusan hidupnya pada Sang Pemilik Jiwa.
Kami sebagai orangtua, hanya bisa memberikan bekal ilmu dan menempa kedewasaannya. Salah satunya, adalah mengajaknya umroh tepat sebelum keberangkatannya ke Kyoto, Jepang. Alhamdulillah Allah juga memudahkan rezeki kami saat itu. Tanpa rencana panjang, kami mendaftar umroh dalam waktu dadakan dan alhamdulillahnya tersedia paket yang cocok buat kami dari segi harga, lokasi hotel baik di Mekkah dan Madinah, semuanya dekat. Jujur, saya sudah malas harus jalan jauh untuk ibadah ke masjid.
Dan di tanggal 1 Februari 2024, di musim dingin, kami berangkat ke Madinah sekeluarga. Sebuah momen yang sangat indah, karena bisa bersama-sama menunaikan ibadah ke tanah suci. Anak-anak sangat menyukai suasana Madinah yang tenang, syahdu dan sejuk luar biasa. Dan mereka bilang, di Mekkah segala sesuatu bergerak lebih cepat. Manusia sangat banyak, semua bergerak cepat, berlomba-lomba mengejar sesuatu.
Memang seperti itulah bedanya Madinah dan Mekkah. Di Madinah, kita bisa beribadah dengan santai, tanpa berdesakan, tanpa ada rasa seolah berlomba mengejar apapun. Udara lebih sejuk dan benar-benar terasa menenangkan diri dari kesibukan dunia.
Ketika pindah ke Mekkah, sejak tiba kami langsung menunaikan umroh - thawaf dan sa'i - di waktu dini hari. Esoknya langsung berebut tempat kembali di setiap waktu shalat. Tempat selalu penuh, selalu rusuh, ramai dan riuh. Tegang, tapi tetap menenangkan. Karena kita tidak sedang berlomba mengejar dunia. Kita berlomba mendapat shaf terbaik untuk sholat, untuk selalu mendekat pada ka'bah.
Ahh masyaallah. Saya berharap, perjalanan kami meninggalkan bekal di hati anak-anak, agar menjadikan iman adalah sumber kekuatan, pegangan dan tumpuan terutama ketika beban hidup sedang menempa mereka.
Dan memang, ada masa ketika Naufal ditempa ujian-ujian hidup di masa perantauannya di Jepang, Dan satu-satunya bekal yang bisa kami ingatkan buat dia adalah terus berdoa. Minta pada Allah agar diberi kemudahan dan jalan keluar.
Aaah Allah, saya rindu kembali mengunjungi rumah-Mu. Izinkan kami kembali ke sana bersama-sama, dalam ibadah haji dan umrah. Aamiin




No comments
Show me that you visited this blog. Thanks!