My Very First Solo Traveling


Bisa bepergian jauh seorang diri adalah sesuatu yang mustahil bagi saya. Kalau kamu pernah membaca tulisan saya di sini: Sebuah Fase Hidup, kamu akan tahu bahwa saya bukanlah orang yang berjiwa petualang. Saya penakut, terutama saat mengunjungi tempat baru. Apalagi sendirian. 

Tapi sesuatu memaksa saya untuk berani pergi ke Jepang sendiri, alias solo traveling.

Memang bukan tempat yang baru banget, karena Jepang bisa dibilang sudah menjadi negara kedua buat saya, karena hati saya tertambat di sana. Sehingga membayangkan destinasinya tidak terlalu menakutkan. Namun, yang membuat saya takut adalah perjalanannya. 

Seseru Apakah Dunia SMA?

High School Graduation


Saya bertanya pada Kayy, "Kamu nyesel ngga, masuk sekolah formal?" ketika dia baru lulus SMA beberapa pekan lalu. Dia menjawab, "Not at all. I got lots of good memories during school."
Alhamdulillah, saya juga merasa memasukkan Kayy ke sekolah formal untuk SMA merupakan sebuah keputusan tepat. Bahkan saya sempat menyesal, andai Naufal juga masuk sekolah formal di sekolah yang sama saat SMA. Sayangnya, keputusan itu terhalang oleh COVID-19, sehingga bahkan anak sekolah saja saat itu banyak bertanya kepada kami, praktisi homeschooling, tentang bagaimana menjalani pendidikan di rumah. 

Ketika kami memutuskan untuk mengambil sekolah formal, bukanlah karena homeschool tidak lagi baik untuk anak-anak, tapi saya merasa Kayy perlu mengalami momen yang berbeda di usianya, sebuah pengalaman penting untuk lebih banyak berada di luar rumah di usia menjelang dewasa, bertemu dengan banyak orang di luar anggota keluarga, dan menghadapi banyak tantangan baru dengan kami masih menemaninya.