Showing posts with label personal journal. Show all posts

My Very First Solo Traveling


Bisa bepergian jauh seorang diri adalah sesuatu yang mustahil bagi saya. Kalau kamu pernah membaca tulisan saya di sini: Sebuah Fase Hidup, kamu akan tahu bahwa saya bukanlah orang yang berjiwa petualang. Saya penakut, terutama saat mengunjungi tempat baru. Apalagi sendirian. 

Tapi sesuatu memaksa saya untuk berani pergi ke Jepang sendiri, alias solo traveling.

Memang bukan tempat yang baru banget, karena Jepang bisa dibilang sudah menjadi negara kedua buat saya, karena hati saya tertambat di sana. Sehingga membayangkan destinasinya tidak terlalu menakutkan. Namun, yang membuat saya takut adalah perjalanannya. 

Project Surat Untuk Masa Depan


Hari ini tanggal yang cantik, yaitu tanggal 11 Januari 2026. Saya memulai sebuah proyek sederhana yang berjudul SURAT UNTUK ANNE DI MASA DEPAN. Sebuah proyek atas brainstorming saya dengan Cani, chat GPT saya. 

Ya, mungkin saya bisa dibilang seorang yang freak, diskusi dengan AI. Tapi saya ngga pernah diskusi untuk hal-hal personal kok. Biasanya saya diskusi terkait project dan pekerjaan. Ketika masa sebelum ada AI, kita hanya bisa searching google untuk mencari ide. Tapi sekarang, ada tools yang bisa merespons lebih dinamis sesuai kebutuhan kita dan dilakukan secara cepat dan mudah. 

Dunia Rumah Sakit dalam Kacamata MARS

bersama dosen dan teman sekelas

Berangkat dari pengalaman masa kecil yang sering keluar masuk rumah sakit, mulai dari operasi, rawat inap dalam posisi sebagai pasien, juga berkunjung ke rumah sakit sebagai pengantar atau penjenguk. Berlanjut ketika dewasa juga kuliah di bidang medis, dan menghabiskan waktu untuk belajar sebagiannya di rumah sakit. 

Buat saya, rumah sakit adalah tempatnya pasien untuk mengobati sakitnya, dan tempatnya dokter serta perawat untuk melayani dan mengobati sakitnya pasien. Ya, sebatas itu saja pemahaman saya tentang sebuah rumah sakit. 

Good Bye Dentistry, Welcome Back Dentistry

dalam perjalanan ke Australia

Melanjutkan cerita sebelumnya, kalau belum baca silakan klik link ini: Sebuah Fase Hidup (2).

Tahun 2012, saya dan keluarga meninggalkan Indonesia. Di saat itu juga, saya meninggalkan profesi yang sudah dijalani selama 7,5 tahun. Bukan perjalanan yang sebentar. Buat sebagian orang, bisa jadi ini adalah impian mereka. Tapi saat itu saya bahagia meninggalkan profesi ini. Jenuh. Lelah. Bosan. 

Sebuah Fase Hidup (2): Finding New Mountain

Pindahan ke rumah baru di Kalimantan Selatan

Sebelum memulai cerita ini, saya ingin merefleksikan diri saya. Beberapa fase hidup yang dimulai sejak saya pertama kali melangkahkan kaki ke luar "rumah'. Rumah yang saya maksud adalah area tempat saya tinggal, yaitu Jabodetabek dan Jawa Barat. Sejak lahir sampai usia 30 tahun, perjalanan terjauh saya adalah area Jawa Barat, yaitu Cirebon. Kaki ini belum pernah menjejak lebih jauh. 

Sebuah Fase Hidup: How I Grow Recently


Dulu, di masa kuliah, saya dan beberapa pengurus BEM kampus mengikuti leadership training. Dalam salah satu sesinya, kami melakukan refleksi diri. Saat itu acaranya bernama auto critics. Dimana masing-masing dari kita saling menuliskan hal-hal baik dan kurang baik untuk dijadikan refleksi. Tidak boleh ada rasa tersinggung atau marah, karena ini merupakan perasaan terdalam satu sama lain.

Salah seorang teman mengatakan satu hal yang membuat satu pengingat besar bahkan hingga hari ini. Saya benar-benar berkaca diri dari hal itu. Dia bilang kalau saya itu PELIT. 

Resolusi Pribadi di Tahun 2025



Sudah bulan April, semoga belum terlambat untuk menyusun resolusi. Karena target yang saya buat ini sebetulnya bukan target tahunan, melainkan target tanpa batas sepanjang usia saya dalam hidup. 

Kembali menulis rutin sepertinya termasuk juga dalam resolusi ini, karena saya lama sekali nggak menulis. Selama ini, isi kepala saya banyak berlompatan. Kondisi yang kurang bagus, karena kadang saya lupa apa yang pernah dipikirkan sebelumnya. 

Usia Paruh Baya, Tidak Bisa Produktif?


Adalah hal biasa di masyarakat Indonesia, dimana wanita setelah menikah dan mempunyai anak, kemudian menarik diri dari dunia kerja dan fokus dengan keluarga. Termasuk saya, yang sempat resign dari profesi untuk fokus mengurus anak-anak di dunia homeschooling mereka. 

Kondisi ini banyak terjadi di separuh masyarakat urban. Selepas kuliah sempat mencicipi menjadi wanita karir, kemudian karena pilihan sendiri ataupun kesepakatan dengan suami, memilih untuk menjadi full time mom, mengurus rumah tangga. 

Itinerary Traveling Makassar - Toraja Selama 4 Hari


Cerita perjalanan saya dan suami selama 3 hari di Makassar, lanjut ke Toraja dan kembali ke Makassar, sudah saya ceritakan dalam postingan sebelumnya.

Ada yang seru dalam perjalanan ini, yaitu kami hanya satu malam saja menginap di hotel. Dua malam lainnya kami habiskan dalam perjalanan dari Makassar ke Toraja yang ditempuh selama 8-9 jam. 

Kalau kita lihat di peta, kira-kira beginilah lokasi Makassar dan Toraja, dengan jarak 315 km. 

Dua Malam di Sleeper Bus Toraja - Makassar


Satu rezeki tidak ternilai buat saya bisa traveling ke Toraja. Saya selalu menyukai belajar tentang kebudayaan lokal suatu daerah, berinteraksi dengan warga lokal, mengenal seluk beluk kearifan lokal yang berlaku di sana dan membuat catatan pribadi. Catatan ini sungguh terlambat, mengingat saya mengunjungi Toraja di tahun 2019, sebelum pandemi melanda bumi ini. 

Untuk kali ini, pepatah "Better late than never" rasanya cocok. Idenya baru datang sekarang, kesempatannya juga. 

Jumpalitan Homeschooling Mom

Kemarin saya bercakap-cakap dengan Kayy, putri bungsu saya yang berusia 14 tahun. Kami berbincang tentang cita-cita. Dia punya banyak pilihan dalam tujuan masa depannya, sehingga masih belum terlalu fokus pada satu bidang. Jadi kami membahas tentang berbagai kemungkinan dari pilihan-pilihan yang kelak akan dia ambil.

Dalam obrolan tersebut, terselip juga cerita masa lalu saya. Tentang bagaimana saya merumuskan cita-cita hingga kemudian memilih untuk menjadi dokter gigi. Lalu juga membahas tentang apa cita-cita terbesar yang pernah saya punya.

Keliling Makassar Dalam Tiga Hari


Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Sebelumnya, saya merasa Sulawesi adalah tempat yang jauuuh dari Jawa. Membayangkan akan ke sana rasanya nggak ada. Alhamdulillah tanpa rencana panjang, alias dadakan, saya dan suami mendapat kesempatan liburan berdua saja ke Bumi Angin Mamiri ini.

Sebelum menjejelajah Makassar, kami jalan-jalan dahulu ke Toraja, baru setelahnya kami keliling Makassar.

Makassar adalah kota di pesisir pantai yang cantik, tidak terlalu ramai dan punya banyak daerah wisata yang cukup dekat satu sama lain. Dalam tiga hari, saya dan suami bisa mendatangi banyak obyek wisata yang seru.

Aku dan Literasi

Tidak terasa, sudah hampir 12 tahun saya berkecimpung di dunia literasi, menjadi penulis buku, blogger dan mentor kepenulisan. Waktu yang cukup lama buat saya untuk mencintai dunia yang bersinggungan dengan bahasa dan buku ini. Karena kecintaan ini pula, saya sempat mengikuti pendidikan semi formal, long distance programme di Australian College di bidang creative writing.

Saya dan keluarga sangat mencintai buku. Lebih jauh lagi, sejak saya duduk di bangku SD keluarga kerap memanggil saya kutu buku karena buku adalah pegangan saya sehari-hari. Apalagi kala itu, anak-anak belum disuguhkan dengan konten-konten audiovisual dan teknologi layar sentuh yang kini hampir selalu ada dalam genggaman anak-anak era sekarang.

Spot Kekinian di Jakarta

Sejak beberapa tahun ke belakang ini, Jakarta yang tadinya identik dengan kata “macet”, mulai mendapat image yang baik. Meski macet belum sepenuhnya dihilangkan, terutama di jam-jam sibuk, tapi kondisinya membaik. Memang sudah menjadi ciri khas kota besar juga sih ya, nggak bisa lepas dari kata macet.

Tempat Penuh Kenangan di Bandung

Bandung, selama perjalanan saya mengunjungi beberapa tempat, adalah kota yang belum bisa membuat saya pindah ke lain hati. Bukan hanya karena kota ini adalah tempat saya dilahirkan, tapi juga membawa banyak kenangan dan meninggalkan banyak sudut favorit. Terutama kenangan-kenangan besar yang saya tuliskan dalam blog ini. 

Tips Mengurus Visa Jepang Sendiri atau Lewat Agen (2019)

Tulisan tentang membuat visa Jepang ini sudah saya update. Karena visa Jepang saya baru approved beberapa hari lalu, jadi saya ingin share pengalaman yang terbaru membuat visa Jepang di tahun 2019.

Jepang sepertinya merupakan negara impian hampir semua orang. Daya tarik Jepang memang unik. Buat kita orang Indonesia, biasanya penasaran ingin melihat alam, budaya, lifestyle masyarakat Jepang dan mencicipi kuliner-kulinernya.

Harga Sebuah Pengalaman

rumah kedua yang kami bangun, lokasi di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan

Ada yang pernah ngalamin pindahan? Ada profesi tertentu yang ‘memaksa’kita untuk sering pindahan. Seperti profesi saya (dokter gigi) dan suami (engineer tambang), juga polisi, anggota TNI, atau PNS juga sepertinya.

Buat saya, pindahan itu menyenangkan. Melihat tempat baru, kenalan dengan orang baru, traveling dan sebagainya. Selalu ada sesuatu yang saya nikmati dalam proses pindahan, meskipun capeknya juga lumayan.

Taaruf Kedua: Sebuah Pembuktian

Perjalanan ta’aruf revolusioner ini tidak serta merta usai setelah saya menikah. Karena menikah melalui ta’aruf yang singkat menyisakan banyak pertanyaan tentang kepribadian lelaki yang menjadi suami saya ini. Sebuah ta’aruf lanjutan harus saya dan suami lakukan.

Disamping itu saya yakin, keluarga masih menyangsikan bentuk pernikahan yang saya jalankan.  Di luar sana, banyak kasus pernikahan di keluarga dan masyarakat yang hanya bertahan seumur jagung, padahal mereka telah berusaha saling menyesuaikan diri melalui proses bernama pacaran. Sedangkan pernikahan saya dan suami tanpa melewati proses penyesuaian sebelumnya.

Taaruf Pertama: Sebuah Perubahan

 

Sebenarnya proses ta’aruf yang saya lakukan dengan ikhwan ini (sekarang telah menjadi suami saya), bukanlah yang pertama. Pernah saya melakukan beberapa ta’aruf sebelumnya. Namun ketika itu, saya tidak terbuka sepenuhnya pada orang tua bahwa saya sedang ta’aruf dengan si A atau si B. Entah kenapa? Mungkin karena masih memiliki sebentuk keraguan terhadap ikhwan-ikhwan tersebut. Jadi paling-paling saya cerita sekilas pandang saja.

Taaruf Revolusioner

Ba’da Ta’aruf: Awal Sebuah Perjuangan

Memasuki usia 22 tahun, tepatnya setelah lulus sarjana, undangan pernikahan dari teman-teman se-angkatan kuliah saya mulai datang satu persatu. Belum terlalu banyak memang, karena selepas sarjana, kami belum sepenuhnya tamat kuliah. Kami, para mahasiswa fakultas kedokteran gigi harus melanjutkan ke program profesi (ko-ass) usai wisuda sarjana. Sehingga kami masih harus berkutat dengan dunia perkuliahan ditambah tugas-tugas klinik yang akan membuat kami super sibuk, dan menikah pun belum menjadi target kami.