My Very First Solo Traveling


Bisa bepergian jauh seorang diri adalah sesuatu yang mustahil bagi saya. Kalau kamu pernah membaca tulisan saya di sini: Sebuah Fase Hidup, kamu akan tahu bahwa saya bukanlah orang yang berjiwa petualang. Saya penakut, terutama saat mengunjungi tempat baru. Apalagi sendirian. 

Tapi sesuatu memaksa saya untuk berani pergi ke Jepang sendiri, alias solo traveling.

Memang bukan tempat yang baru banget, karena Jepang bisa dibilang sudah menjadi negara kedua buat saya, karena hati saya tertambat di sana. Sehingga membayangkan destinasinya tidak terlalu menakutkan. Namun, yang membuat saya takut adalah perjalanannya. 

Saya berangkat menggunakan Cathay Pacific Airways, yang mengharuskan transit di Hong Kong. Proses transit ini cukup membuat saya trauma gara-gara pernah transit di Xiamen yang sangat melelahkan. Alhamdulillah, saat di Xiamen ini saya traveling berdua dengan Kayy. Karena trauma tersebut, saat akan berangkat ke Jepang kali ini, saya menangis karena takut harus berangkat sendirian. 

Tapi tiket sudah di tangan, meskipun saat membelinya saya sempat ragu. Harusnya saya berangkat 1 pekan sebelumnya. Tapi dibatalkan. Dan akhirnya tetap harus berangkat juga, satu pekan kemudian. Setelah itu, waktu nggak mungkin diputar mundur. Uang sudah banyak keluar untuk membeli tiket berangkat dan pulang, serta untuk penginapan. 

Bismillah, saya berangkat ke Kyoto sendirian. 

Solo traveling di wilayah Indonesia sudah sering saya lakukan. Alhamdulillah, selama ini aman. Saya berani aja terbang ke mana-mana sendiri. Yang saya takutkan cuma satu. Sejujurnya, saya ngga berani menginap di hotel sendirian. Saat keberangkatan ke Jepang, semuanya masih aman karena saya berangkat pada siang hari. Ngga perlu berangkat subuh, atau malam. Jadi ngga khawatir apa-apa. 

Sebelum berangkat, saya berdoa semoga di pesawat saya duduk bersebelahan dengan orang Indonesia. Saya nggak mau duduk bareng orang China atau orang India. Alhamdulillah, Allah mengabulkan. Saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda Indonesia yang sudah lama bermukim di Hong Kong. Pemuda ini ramah dan sopan. Saya yang duduk dekat jendela, dan beser terus, sering ganggu dia karena harus bolak-balik ke toilet. Di sepertiga akhir perjalanan, kami banyak mengobrol untuk mengusir kebosanan. Dia cerita pengalamannya sekolah dan tinggal di Hong Kong, saya cerita tentang anak-anak. 

Bersiap landing di Hong Kong 

Kami terus mengobrol hingga turun dari pesawat dan berpisah di bandara. Saya masuk ke area transit, dia keluar dari bandara untuk pulang ke rumahnya. Saya masih harus transit sekitar 3 jam di bandara ini, dan saya manfaatkan waktu itu untuk keliling, melihat-lihat suasana bandara, serta mencari restoran halal. Ya, ada kafe halal, yaitu Old Town White Coffee milik orang Malaysia. Saya makan laksa dan ngopi di sana. 

Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Osaka pada malam hari, melewatkan malam di pesawat, dan tiba di Bandara Kansai pukul 06.30 pagi. Proses imigrasi cukup memakan waktu lama, dan saya bisa keluar dari bandara serta melanjutkan perjalanan ke Kyoto menggunakan Haruka Express Train. Sampai di sini, saya lega sekali karena selamat tiba di Jepang tanpa nyasar atau salah jalan, wkwkwk. Sebetulnya, kalau sudah tiba di Osaka, saya sudah hafal harus ke mana, beli tiket di mana, dan masuk ke peron mana untuk lanjut ke Kyoto. 

Saya tiba di Kyoto hampir tengah hari, pada waktu yang nanggung untuk bisa lanjut ke hotel karena belum waktunya untuk check-in. Sementara itu, badan sudah nggak nyaman karena belum mandi sejak kemarin. Saya butuh kamar mandi. Jadi, tujuan utama saya saat itu adalah apartemen Naufal. Sayangnya, saya masih harus menunggu karena dia ada agenda di kampusnya sampai sekitar pukul 13.30. 

Mencari titik yang tepat untuk naik bus di Stasiun Kyoto itu nggak mudah. Karena pilihan bus dan kereta sangaaaaat banyak. Meskipun dibantu maps, tetap saja membingungkan. Saat itu, saya sudah cukup hafal harus berjalan ke arah mana, dan naik bus apa. Saya sudah menitipkan koper besar di loker dan membawa satu stel baju ganti saja untuk mandi di apato-nya Naufal. 

Solo traveling ini memang tujuannya untuk menjenguk Naufal, yang sedang membutuhkan dukungan moril selama ujian masuk universitasnya. Meskipun proses belajarnya di Kyoto Institute of Culture & Language terbilang lancar, proses masuk universitas sungguh melelahkan bagi Naufal. Berulang kali gagal, belajar lagi, ujian lagi, gagal lagi, adalah kenyataan hari-hari yang sedang dia jalani. Dan kegagalan bertubi-tubi yang melelahkan ini memanggil saya untuk menemaninya sejenak. Maka, berangkatlah saya ke Kyoto. 


I love this city so much

Sebuah perjalanan selama 6 hari. Selama di Kyoto, saya banyak melakukan perjalanan sendiri, kadang berdua dengan Naufal saat dia sedang libur. Hiking ke perbukitan, keliling kota pakai bus, nyasar-nyasar sendirian, bengong, belanja, dan lain-lain. Intinya, selama di sana, ada di dekat Naufal buat jadi support system, meski ngga selalu bareng dia. 

Poin penting yang saya dapatkan adalah, ternyata solo traveling itu menyenangkan dan seru, serta bikin nagih. Karena saat melakukan perjalanan sendiri, kita akan fokus pada diri sendiri aja. Ngga ada orang lain yang harus kita urus. Kita bisa makan kapan aja saat lapar dan istirahat kapan aja saat kita membutuhkannya. Pilih makanan sesuai selera sendiri, atur waktu sesuai kondisi sendiri, dan sebagainya. 

Ngga enaknya adalah...sendirian. Nyasar sendirian, jadi kesel sendiri. Bosan, karena ngga ada teman ngobrol selama perjalanan. 

Sangat menikmati perjalanan sendiri ini dan ingin bisa mengulang lagi, pergi ke tempat baru dan berpetualang bener-bener sendiri. Hmmmm, berani apa ngga yaaa?





No comments

Show me that you visited this blog. Thanks!