Harga Sebuah Pengalaman

rumah kedua yang kami bangun, lokasi di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan

Ada yang pernah ngalamin pindahan? Ada profesi tertentu yang ‘memaksa’kita untuk sering pindahan. Seperti profesi saya (dokter gigi) dan suami (engineer tambang), juga polisi, anggota TNI, atau PNS juga sepertinya.

Buat saya, pindahan itu menyenangkan. Melihat tempat baru, kenalan dengan orang baru, traveling dan sebagainya. Selalu ada sesuatu yang saya nikmati dalam proses pindahan, meskipun capeknya juga lumayan.

Taaruf Kedua: Sebuah Pembuktian

Perjalanan ta’aruf revolusioner ini tidak serta merta usai setelah saya menikah. Karena menikah melalui ta’aruf yang singkat menyisakan banyak pertanyaan tentang kepribadian lelaki yang menjadi suami saya ini. Sebuah ta’aruf lanjutan harus saya dan suami lakukan.

Disamping itu saya yakin, keluarga masih menyangsikan bentuk pernikahan yang saya jalankan.  Di luar sana, banyak kasus pernikahan di keluarga dan masyarakat yang hanya bertahan seumur jagung, padahal mereka telah berusaha saling menyesuaikan diri melalui proses bernama pacaran. Sedangkan pernikahan saya dan suami tanpa melewati proses penyesuaian sebelumnya.

Taaruf Pertama: Sebuah Perubahan

 

Sebenarnya proses ta’aruf yang saya lakukan dengan ikhwan ini (sekarang telah menjadi suami saya), bukanlah yang pertama. Pernah saya melakukan beberapa ta’aruf sebelumnya. Namun ketika itu, saya tidak terbuka sepenuhnya pada orang tua bahwa saya sedang ta’aruf dengan si A atau si B. Entah kenapa? Mungkin karena masih memiliki sebentuk keraguan terhadap ikhwan-ikhwan tersebut. Jadi paling-paling saya cerita sekilas pandang saja.

Taaruf Revolusioner

Ba’da Ta’aruf: Awal Sebuah Perjuangan

Memasuki usia 22 tahun, tepatnya setelah lulus sarjana, undangan pernikahan dari teman-teman se-angkatan kuliah saya mulai datang satu persatu. Belum terlalu banyak memang, karena selepas sarjana, kami belum sepenuhnya tamat kuliah. Kami, para mahasiswa fakultas kedokteran gigi harus melanjutkan ke program profesi (ko-ass) usai wisuda sarjana. Sehingga kami masih harus berkutat dengan dunia perkuliahan ditambah tugas-tugas klinik yang akan membuat kami super sibuk, dan menikah pun belum menjadi target kami.

On the Way to Gold Coast, We're Not There Yet


Tujuan akhir perjalanan kami adalah Brisbane. Jaraknya dari kota MacKay sekitar 10 jam perjalanan (900an kilometer), sehingga di perjalanan kami sempat singgah di beberapa kota kecil untuk istirahat, ke toilet dan makan siang.

Namun, kami urung langsung menuju Brisbane, melainkan ingin menginap di Gold Coast dan menghabiskan beberapa hari di sana. Karena banyak wahana menarik yang bis akita datangi, seperti Sea World, Dreamworld dan Warner Bros Movie World.

Menikmati Kota Pesisir, MacKay

 


“Are we there yet?” Pertanyaan ini masih muncul dari mulut si bungsu. Nggak bosen-bosen, ya? ;p

Dan saya selalu bilang, “We nearly get there, honey.”

Lalu dia akan bertanya lagi. “Are we at MacKay?”

Kepinginnya memang menjawab, iya kita sudah sampai. Tapi sayangnya MacKay masih beberapa ratus kilometer lagi.

Are We There Yet?

 

tujuan akhir perjalanan, Brisbane dan Gold Coast

Pertanyaan ini keluar dari mulut anak saya entah berapa puluh kali dalam seminggu kemarin. Saking panjangnya perjalanan yang kami tempuh, melintasi barisan kota dan kondisi alam yang berbeda. Lelah tentunya, tapi menikmati lukisan alam penuh warna ini sungguh menyenangkan dan mengalirkan kalimat tasbih yang tanpa henti.

Tepatnya hari Minggu, hari masih pagi. Matahari belum menampakkan diri dengan sempurna. Jarum jam sudah berputar menuju angka 7. Hari itu musim dingin, matahari datang lebih lambat dibanding pada musim lainnya.