Memulai Decluttering Barang di Rumah

 


 “Menjalani hidup minimal bukanlah tentang hidup kekurangan, tapi tentang bagaimana memiliki kebendaan sesuai kebutuhannya.”


Di Indonesia, bicara hidup minimal rasanya terasa lebih mudah, karena sebagian besar kita mendapat pendidikan dari orangtua untuk hidup hemat. Apalagi ditambah keuangan kita yang memang pas-pasan ya, hihihi.

Tapi kalau kita melihat lifestyle sebagian besar orang-orang negara maju, menjalani minimalist lifestyle ini tampaknya beraaat bener.

Hidup Minimalis

Setiap keluarga, baik secara bersama-sama maupun individual akan bertumbuh. Biasanya – ini mengukur dari pendapat pribadi – kita ingin berkembang menjadi lebih baik. Lebih makmur (baca: meningkat secara ekonomi), dimana di awal nikah oke lah kemana-mana naik motor butut. Tapi begitu punya anak dua harus udah bisa punya mobil, meskipun second.

Membiasakan Anak Mendirikan Shalat Lima Waktu


Saya merasakan sebuah tantangan tersendiri dalam mengajarkan anak shalat ketika sudah menjadi homeschooler, dimana program pendidikan anak dipegang sepenuhnya oleh keluarga. Karena sebelumnya, Naufal pernah menjalani pendidikan formal di kelas 1 dan dia mendapatkan ilmu tentang shalat lebih banyak di sekolah. Di rumah, kami tinggal mensinergikan pendidikan ini dan menerapkannya dalam keseharian selama mereka berada di rumah. Sisanya, sekolah yang memegang.

Kemudian, ketika menjadi keluarga Hser, semua urusan termasuk shalat adalah tanggung jawab orangtua. Mulai dari konsistensi mendirikan shalat pada waktunya, mengajarkan adab yang benar, bacaan-bacaan sholatnya, hafalan surat Al Qur’an dan yang paling penting adalah membuat anak-anak paham kenapa muslim harus mendirikan shalat.

Buku "Pojok Bermain Anak", Segudang Referensi Ide Bermain


Saya beberapa kali menerima pertanyaan seperti ini, “Apa kegiatan yang bisa dilakukan untuk anak usia batita atau balita?”

Seringkali saya menjawab dengan dua kata, “Bermain.” Karena sejauh yang saya ingat, ketika anak-anak saya berusia di bawah 6 tahun yang kami lakukan di rumah adalah bermain bersama.

Sebelumnya, kita bedakan dulu makna menemani anak bermain dengan bermain bersama, ya.

Seberapa Penting Ijazah bagi Anak Homeschooling

 


Kalau teman-teman adalah orangtua homeschooler, berapa sering menerima pertanyaan, “Bagaimana mendapatkan ijazah bagi anak yang homeschooling?” 

Bagi orangtua non homeschooler, pertanyaan apa yang akan terlintas di kepala saat memikirkan tentang homeschooling? “Bagaimana mendapatkan ijazahnya” kah? Kalau iya, artinya teman-teman masih normal :D.

Siapa Guru Homeschooling di Rumah?

Selama satu setengah tahun keluarga kami menjalani homeschool (HS), selalu ada satu pertanyaan dari rekan-rekan saat saya berdiskusi dengan mereka, ”Jadi, siapa yang menjadi guru homeschooling anak-anak? Apakah ada guru datang ke rumah?”

Ketika saya bilang bahwa tidak ada guru lain yang datang, kecuali saya dan istri sebagai “guru”, banyak dari mereka berdecak kagum. 

Sosialisasi Anak Homeschooling

 


Sosialisasi anak homeschooling merupakan salah satu isu penting kedua setelah urusan ijazah atau legalitas. Ini yang sering ditanyakan oleh para orangtua sebelum memulai menjadi praktisi homeschool atau ketika bertemu dengan praktisi.

“Bagaimana dengan sosialisasinya?” Kira-kira seperti itu pertanyaannya.

Banyak orangtua yang khawatir bahwa anak HS nantinya tidak punya banyak teman, tidak cakap bersosialisasi atau menjadi kurang pergaulan dengan dunia luar. Padahal, anak-anak homeschooling ini dalam aktivitasnya tidak melulu berada di rumah. Melainkan beragam sekali aktivitasnya dan dari sana mereka malah mendapatkan pertemanan yang lebih luas.