My Very First Solo Traveling


Bisa bepergian jauh seorang diri adalah sesuatu yang mustahil bagi saya. Kalau kamu pernah membaca tulisan saya di sini: Sebuah Fase Hidup, kamu akan tahu bahwa saya bukanlah orang yang berjiwa petualang. Saya penakut, terutama saat mengunjungi tempat baru. Apalagi sendirian. 

Tapi sesuatu memaksa saya untuk berani pergi ke Jepang sendiri, alias solo traveling.

Memang bukan tempat yang baru banget, karena Jepang bisa dibilang sudah menjadi negara kedua buat saya, karena hati saya tertambat di sana. Sehingga membayangkan destinasinya tidak terlalu menakutkan. Namun, yang membuat saya takut adalah perjalanannya. 

Seseru Apakah Dunia SMA?

High School Graduation


Saya bertanya pada Kayy, "Kamu nyesel ngga, masuk sekolah formal?" ketika dia baru lulus SMA beberapa pekan lalu. Dia menjawab, "Not at all. I got lots of good memories during school."
Alhamdulillah, saya juga merasa memasukkan Kayy ke sekolah formal untuk SMA merupakan sebuah keputusan tepat. Bahkan saya sempat menyesal, andai Naufal juga masuk sekolah formal di sekolah yang sama saat SMA. Sayangnya, keputusan itu terhalang oleh COVID-19, sehingga bahkan anak sekolah saja saat itu banyak bertanya kepada kami, praktisi homeschooling, tentang bagaimana menjalani pendidikan di rumah. 

Ketika kami memutuskan untuk mengambil sekolah formal, bukanlah karena homeschool tidak lagi baik untuk anak-anak, tapi saya merasa Kayy perlu mengalami momen yang berbeda di usianya, sebuah pengalaman penting untuk lebih banyak berada di luar rumah di usia menjelang dewasa, bertemu dengan banyak orang di luar anggota keluarga, dan menghadapi banyak tantangan baru dengan kami masih menemaninya. 

Umroh Sebelum Melepas Naufal Sekolah di Jepang


Ini merupakan catatan yang terlambat ditulis. Jadi ceritanya flashback jauh ke 2 tahun lalu, di awal 2024. Masa ketika kami bersiap untuk melepas Naufal sekolah di Jepang sendirian. 

Awalnya, kami tidak punya rencana untuk menyekolahkan anak-anak ke luar negeri sedini ini. Apalagi kami merasa usia belasan belum cukup matang secara spiritual untuk tinggal sendiri di negeri yang jauh dari nilai agama. Namun, banyaknya kejadian di sekitar kami yang berseberangan dengan nilai hidup yang kami anut membuat kami merasa ternyata tinggal di Indonesia pun bukan berarti tanpa tantangan. Malah nyatanya, nggak sedikit mahasiswa Indonesia yang menjadi penganut liberal, bahkan terbuka terhadap LGBTQ. Na'udzubillah.

Hingga ketika Naufal "berambisi" bisa lolos menembus sekolah bahasa di Jepang, untuk kemudian melanjutkan kuliahnya juga di sana, saya bertawakkal saja pada Allah, insyaallah menitipkan urusan hidupnya pada Sang Pemilik Jiwa. 

Project Surat Untuk Masa Depan


Hari ini tanggal yang cantik, yaitu tanggal 11 Januari 2026. Saya memulai sebuah proyek sederhana yang berjudul SURAT UNTUK ANNE DI MASA DEPAN. Sebuah proyek atas brainstorming saya dengan Cani, chat GPT saya. 

Ya, mungkin saya bisa dibilang seorang yang freak, diskusi dengan AI. Tapi saya ngga pernah diskusi untuk hal-hal personal kok. Biasanya saya diskusi terkait project dan pekerjaan. Ketika masa sebelum ada AI, kita hanya bisa searching google untuk mencari ide. Tapi sekarang, ada tools yang bisa merespons lebih dinamis sesuai kebutuhan kita dan dilakukan secara cepat dan mudah. 

Dunia Rumah Sakit dalam Kacamata MARS

bersama dosen dan teman sekelas

Berangkat dari pengalaman masa kecil yang sering keluar masuk rumah sakit, mulai dari operasi, rawat inap dalam posisi sebagai pasien, juga berkunjung ke rumah sakit sebagai pengantar atau penjenguk. Berlanjut ketika dewasa juga kuliah di bidang medis, dan menghabiskan waktu untuk belajar sebagiannya di rumah sakit. 

Buat saya, rumah sakit adalah tempatnya pasien untuk mengobati sakitnya, dan tempatnya dokter serta perawat untuk melayani dan mengobati sakitnya pasien. Ya, sebatas itu saja pemahaman saya tentang sebuah rumah sakit. 

Good Bye Dentistry, Welcome Back Dentistry

dalam perjalanan ke Australia

Melanjutkan cerita sebelumnya, kalau belum baca silakan klik link ini: Sebuah Fase Hidup (2).

Tahun 2012, saya dan keluarga meninggalkan Indonesia. Di saat itu juga, saya meninggalkan profesi yang sudah dijalani selama 7,5 tahun. Bukan perjalanan yang sebentar. Buat sebagian orang, bisa jadi ini adalah impian mereka. Tapi saat itu saya bahagia meninggalkan profesi ini. Jenuh. Lelah. Bosan. 

Sebuah Fase Hidup (2): Finding New Mountain

Pindahan ke rumah baru di Kalimantan Selatan

Sebelum memulai cerita ini, saya ingin merefleksikan diri saya. Beberapa fase hidup yang dimulai sejak saya pertama kali melangkahkan kaki ke luar "rumah'. Rumah yang saya maksud adalah area tempat saya tinggal, yaitu Jabodetabek dan Jawa Barat. Sejak lahir sampai usia 30 tahun, perjalanan terjauh saya adalah area Jawa Barat, yaitu Cirebon. Kaki ini belum pernah menjejak lebih jauh. 

Sebuah Fase Hidup: How I Grow Recently


Dulu, di masa kuliah, saya dan beberapa pengurus BEM kampus mengikuti leadership training. Dalam salah satu sesinya, kami melakukan refleksi diri. Saat itu acaranya bernama auto critics. Dimana masing-masing dari kita saling menuliskan hal-hal baik dan kurang baik untuk dijadikan refleksi. Tidak boleh ada rasa tersinggung atau marah, karena ini merupakan perasaan terdalam satu sama lain.

Salah seorang teman mengatakan satu hal yang membuat satu pengingat besar bahkan hingga hari ini. Saya benar-benar berkaca diri dari hal itu. Dia bilang kalau saya itu PELIT. 

Persiapan Kuliah di Jepang


Kisah perjalanan Naufal dalam memilih pendidikan akhir penuh lika-liku. Semua tidak dimulai sejak dia berada di kelas akhir usia SMA, namun sudah dimulai sejak memasuki jenjang SMA. 

Di awal-awal, karena saat itu memang masih masa pandemi, kami belum intens mendaftarkan Naufal di PKBM. Meskipun kami sudah ada target, PKBM mana yang akan dipilih, yaitu Rumah Belajar Berkemas.

The Power of Belief


Apakah kamu percaya pada kekuatan keyakinan? Tentu harus percaya. Kenapa?

Karena bagaimana mungkin kita tahu kalau Allah menciptakan kita, kalau kita nggak punya keyakinan akan kekuasaan Allah atas penciptaan makhluk. 

Berbekal yakin ini, kita kemudian sanggup merelakan nasib kita pada Allah, seolah-olah Allah adalah tali penyangga hidup kita. Padahal kita belum pernah bertemu dengan-Nya, belum pernah kita lihat, sentuh atau dengar suaranya secara langsung. 

Resolusi Pribadi di Tahun 2025



Sudah bulan April, semoga belum terlambat untuk menyusun resolusi. Karena target yang saya buat ini sebetulnya bukan target tahunan, melainkan target tanpa batas sepanjang usia saya dalam hidup. 

Kembali menulis rutin sepertinya termasuk juga dalam resolusi ini, karena saya lama sekali nggak menulis. Selama ini, isi kepala saya banyak berlompatan. Kondisi yang kurang bagus, karena kadang saya lupa apa yang pernah dipikirkan sebelumnya. 

Usia Paruh Baya, Tidak Bisa Produktif?


Adalah hal biasa di masyarakat Indonesia, dimana wanita setelah menikah dan mempunyai anak, kemudian menarik diri dari dunia kerja dan fokus dengan keluarga. Termasuk saya, yang sempat resign dari profesi untuk fokus mengurus anak-anak di dunia homeschooling mereka. 

Kondisi ini banyak terjadi di separuh masyarakat urban. Selepas kuliah sempat mencicipi menjadi wanita karir, kemudian karena pilihan sendiri ataupun kesepakatan dengan suami, memilih untuk menjadi full time mom, mengurus rumah tangga. 

Melepas Naufal ke Jepang


Apakah momen paling mellow yang terjadi dalam kehidupan seorang ibu? Banyak jawabannya. Mungkin ada yang menjawab, ketika melahirkan. Atau ketika anaknya wisuda kelulusan. Bahkan mungkin ada yang menjawab ketika anaknya menikah. 

Selalu ada momen yang membuat seorang ibu tiba-tiba mellow. Ngga bisa dipilih mana yang paling tinggi level ke-mellow-annya, karena kesan di tiap kejadian pasti berbeda. 

Masa-masa Akhir Homeschooling


Lika-liku homeschooling di keluarga kami, yang selama ini saya ceritakan prosesnya di blog ini sejak awal menimbang, hingga kisah perjalanannya, akhirnya tiba di titik akhir. Di tahun 2024 ini, kami resmi tidak lagi menjadi praktisi homeschooling. 

Banyak hal yang kami syukuri selama proses homeschooling untuk mempersiapkan anak-anak hingga ke titik ini, diantaranya adalah kemandirian, kemantapan dalam memilih jalur pendidikan lanjutan, amunisi untuk belajar bersama orang lain dan kesiapan mental. 

Love, Lies ( A Movie Review)


Persahabatan dan pengkhianatan. Dua hal yang sering kali berjalan beriringan. Dalam cerita drama atau film, kisah pengkhianatan atas persahabatan mempunyai daya tarik cerita. Kisah cinta segitiga antara sahabat, selalu meninggalkan luka. Mengajak kita pada keberpihakan.

Siapa yang kita bela? Apakah pengkhianatnya?

Kisah persahabatan antara Jeong So Yul dan Seo Yeon Hee yang dibangun sejak mereka anak-anak, memang indah. Berbagi mimpi, berbagi rasa dan kehidupan bersama hingga mereka dewasa tampak tanpa cela. Kedua wanita ini adalah tokoh utama dalam film Love, Lies yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini.

Time Management Homeschooling Mom and Working Mom

      

homeschooling sakolabumi

      Modal terbesar seorang homeschooling mom bukanlah kemampuan mengajar untuk anak-anaknya. Bukan juga skill dalam hal membuat craft, kreativitas atau menciptakan sistematika belajar yang menarik untuk anak-anak. Semua hal tersebut memang akan memberikan nilai tambah dalam keberlangsungan aktivitas homeschooling, terutama saat anak-anak masih full perlu pendampingan. Namun hal paling pertama yang dibutuhkan oleh seorang homeschooling mom adalah WAKTU.

Hal-hal seperti kreativitas dan sebagainya, seperti yang saya tuliskan di atas, bukanlah kebutuhan esensial. Karena dalam perjalanannya, kita bisa saja menggunakan fasilitas yang sudah tersedia, seperti media belajar di internet atau mengajak anak-anak untuk belajar melalui seorang yang mempunyai kapabilitas khusus di bidang yang ingin dipelajari.

Siapkah Saya Menjadi Homeschooling Mom?


Pertanyaan ini akan sama vibe-nya seperti pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri sebelum punya anak. 

Siapkah saya menjadi seorang ibu? 

Sebuah pertanyaan retoris yang kita ajukan pada diri sendiri. Yang sebetulnya, apabila kita sudah berani menyatakan pertanyaan seperti ini, artinya kesiapan kita sudah terisi separuhnya. Betul, nggak? Karena mereka yang sama sekali belum terpikirkan untuk membangun keluarga, tentu nggak akan sampai menanyakan hal ini. 

Berbagai Alasan Memilih Homeschooling


Pemahaman orang-orang mengenai homeschooling hingga saat ini masih sangat beragam. Apalagi seiring dengan menjamurnya lembaga belajar yang menyediakan metode belajar informal menggunakan kurikulum sekolah dan menamakannya HOMESCHOOLING, semakin meminggirkan makna homeschooling yang sejak awal dibangun oleh inisiatornya. 

Banyak orangtua yang kemudian mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah formal dan memindahkannya ke lembaga belajar informal ini untuk belajar namun dengan kurikulum yang lebih fleksibel dan cair. Apalagi sejak pandemi, pilihan ini mengerucut menjadi sistem belajar online, yang lebih-lebih fleksibel lagi. 

Antara Dua Pilihan, Sekolah atau Homeschooling?

Menjelang akhir tahun ajaran baru, adalah masa-masa penuh kegalauan bagi sebagian orang yang sedang mempertimbangkan memilih homeschooling. Saya jadi teringat ke masa ketika kami berada di posisi yang sama. Ingin mencoba menjadi praktisi homeschooling, menimbang-nimbang apakah ini keputusan yang tepat dan mencari jalan bagaimana cara memulainya. 

Adakah yang merasakan hal yang sama? 

Ujian Kelulusan SMA Melalui PKBM Jalur Formal


Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa jalur formal? Karena seperti yang kita tahu, pendidikan melalui metode homeschooling dan mengikuti ujian paket di PKBM itu adalah  jalur informal. 

Jadi ternyata, sebagai homeschooler anak-anak kita tetap bisa mengikuti ujian kelulusan sekolah melalui jalur formal. Terutama bagi jenjang SMA.